PENGEMBANGAN KENTANG ATLANTIK DI KABUPATEN GARUT

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
b\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}



281
1

7560000
10692000

359410
259
261
257
276
262
279
1
0“““““““““““
5
1
1
285


282
1
False
0
0
0
0





-1



304800
243
True
128
77
255
3175
3175
70
True
True
True
True
True


278

134217728



1


1
-9999996.000000
-9999996.000000




8

Empty

13382502


16711935


16111328


13421772


8388608


10040166


16777215


3
Berry




22852860
22856760

(`@““““`
266
263
5

110178060
110181960


ImageMenjamurnya restoran fast food (cepat saji), telah melahirkan peluang agribisnis baru. Salah satu menu favorit di restoran-restoran tersebut adalah french fries (kentang goreng). Kentang yang digoreng tersebut, harus kaya pati, sedikit gula dan air. Salah satu varietas yang paling banyak diserap adalah atlantik. Padahal yang paling banyak dibudidayakan petani kita adalah varietas granola atau lazim disebut sebagai kentang sayur. Produktifitas granola memang cukup baik. Dalam kondisi optimal rata-rata petani kita bisa menghasilkan 30 ton per hektar per musim tanam. Tapi granola tidak bisa dijadikan french fries. Sebab kadar air dan gulanya tinggi, sementara patinya rendah. Jadi kalau digoreng akan gosong tetapi tetap lembek. Lain dengan atlantik yang kalau digoreng akan berwarna cokelat cerah kekuningan, keras dan renyah. Kendala utama keengganan petani kentang kita untuk menanam atlantik adalah, produktifitas per hektar per musim tanam hanyalah sekitar 20 ton. Padahal benih atlantik lebih mahal dengan selisih antara Rp 2.000,- sd. Rp 3.000,- per kg. Kebutuhan benih kentang per hektarnya mencapai 1 ton. Hingga selisih harga itu akan berpengaruh ke modal kerja antara Rp 2.000.000,- sampai dengan Rp 3.000.000,- per hektar. Sementara harga atlantik hanya berselisih antara Rp 1.000,- sampai dengan Rp 2.000,- per kg.nya. Seandainya produktifitas atlantik bisa sama dengan granola, pasti petani kita akan berani untuk mencobanya.

 

Sejarah

Kentang (Solanum tuberosum), adalah tanaman umbi-umbian asli Amerika Tengah/Selatan. Komoditas ini telah dibudidayakan oleh masyarakat Indian Aztec, Maya dan Inka sejak beberapa ribu tahun sebelum masehi. Bagi masyarakat Indian di Amerika tengah dan Selatan, kentang merupakan makanan pokok selain jagung, singkong dan ubijalar. Kentang dibawa masuk ke benua Eropa oleh bangsa Spanyol tahun 1794, dan dalam waktu sangat cepat menyebar ke seluruh Eropa, kemudian ke seluruh dunia. Dalam waktu cepat pula masyarakat Eropa menyukai kentang sebagai makanan pokok mereka setelah gandum. Bangsa Belanda membawa kentang ke Jawa tahun 1794. Pertamakali budidaya kentang dilakukan di Cimahi, Jawa Barat. Kemudian bangsa Belanda juga mengintroduksi kentang ke Brastagi, Sumatera Utara tahun 1811. Selanjutnya sentra kentang berkembang di Brastagi (Sumut), Kerinci (Jambi), Pangalengan (Jabar), Dieng (Jateng), Tengger (Jatim) dan Toraja (Sulsel). Dalam waktu singkat pula masyarakat Indonesia menggemari kentang. Namun beda dengan di kalangan masyarakat Indian dan Eropa yang mejadikan kentang sebagai makanan pokok, maka di negeri ini kentang difungsikan sebagai sayuran. Baik untuk sup, sambal goreng maupun rendang (kentang kecil-kecil utuh dan tak dikupas). Karenanya, ketika dekade tahun 1980 dan 1990an restoran fast food masuk ke Indonesia dengan french friesnya, maka kentang varietas atlantik tersebut harus diimpor.

Tahun 1980an, kendala utama budidaya kentang french fries adalah benih. Ketika itu benih kentang french fries masih harus diimpor. Salah satu perintis agroindustri benih kentang french fries adalah PT Bibit Baru di Brastagi, Sumut. Perusahaan PMA ini mampu memproduksi benih atlantik dengan kualitas yang mendekati benih impor. Para petani pun mulai tertarik untuk membudidayakan kentang keripik ini. PT Bibit Baru juga mencoba membenihkan kentang ini di Jawa, dengan lokasi pembenihan di Kopeng, Kabupaten Semarang, Jateng. Namun upaya perusahaan ini untuk mempopulerkan kentang french fries tersebut tidak berhasil mulus. Restoran Kentucky  di Jakarta tidak mau menerima kentang produksi petani kita dengan berbagai alasan. Anehnya, pada saat itu, justru Kentucky Singapura bersedia menerima kentang kita. Tahun 1990an, beberapa restoran cepat saji kita menggunakan kentang lokal. Meskipun, dengan alasan suplai kentang lokal  kita masih sangat kecil, restoran-restoran tersebut tetap masih mengimpor kentang siap goreng (sudah diiris) dari Australia dan AS. Baru ketika pada tahun 1998 kurs 1 US $ dari Rp 2.400,- menjadi Rp 15.000,- maka hampir semua restoran cepat saji menggunakan atlantik lokal.

 

Agribisnis Kentang Atlantik

Saat ini PT Indofood secara serius sudah menangani agribisnis kentang ini. Upaya perusahaan Salim Grup tersebut, bermula dari sekadar untuk memenuhi kebutuhan industri potato chips mereka. Namun sekarang perusahaan ini sudah memperoleh kepercayaan sebagai pemasok daging ayam serta kentang dari restoran-restoran cepat saji di Indonesia. Pola yang digunakan adalah second party. Artinya, Indofood memberikan jaminan kepada restoran-restoran tersebut bahwa daging ayam dan kentang yang dipasoknya akan memenuhi standar Codex maupun Sanitary dan Phytosanitary. Petani binaan Indofood antara lain di Pangalengan, Kab. Bandung, Jawa Barat. Sejalan dengan upaya Indofood ini, beberapa pengusaha benih juga mulai mengikuti jejak Bibit Baru. Antara lain Fitotex. IPB dan Balai Penelitian Sayuran (Balitsa) Lembang juga ikut pula menangani benih kentang french fries. Hingga kendala benih, sedikit banyak mulai bisa teratasi. Yang menjadi masalah tetap masih produktifitas petani. Dengan tingkat produktifitas granola mencapai 25 ton per hektar per musim tanam, dengan harga Rp 5000,- per kg, maka pendapatan kotor petani adalah Rp 125.000.000,- Kalau atlantik mampu berproduksi 25 ton maka pendapatan kotor petani akan menjadi Rp 175.000.000,- (selisih harga sekitar Rp 2.000,- per kg). Tetapi kalau petani hanya mampu berproduksi 20 ton, maka hasil kotor mereka hanya Rp 140.000.000,- Sebenarnya pendapatan dari atlantik ini masih cukup baik sebab biaya produksi kentang hanyalah sekitar Rp 40.000.000,- sampai dengan Rp 45.000.000,- per hektar per musim tanam.  Namun dibandingkan dengan pendapatan dari granola, atlantik masih kalah.

 

Penangkaran Benih Kentang Atlantik di Kabupaten Garut

Di Kabupaten Garut sendiri penangkaran benih kentang Atlantik telah mulai dirintis sejak tahun 2010 yang lalu. Para penangkar yang tergabung dalam wadah Koperasi Penangkar Benih Kentang (KPBK) Kabupaten Garut telah memulai pengembangan benih kentang varietas Atlantik kelas G-0 yang dipusatkan di Desa Tambakbaya Kecamatan Cisurupan dengan membangun 7 screen house yang cukup refresentatif. Sekitar 160.000 knol benih kentang telah dihasilkan pada musim pertama dan ditargetkan bertambah menjadi 500.000 knol pada musim kedua.

Perbenihan kentang industri di Kabupaten Garut ini dijalankan dengan pola kemitraan antara Koperasi Penangkar Benih Kentang (KPBK) dengan perusahaan swasta PT. Rinjani Russet Makmur serta PT. Indofood CBP.

Dengan adanya pengembangan kentang industri varietas Atlantik tersebut diharapkan para penangkar kentang Kabupaten Garut dapat berkontribusi pada pengadaan kebutuhan benih kentang (Varietas Atlantik) Nasional sebesar 7,2 % dan pada akhirnya dapat membantu mengurangi impor benih kentang Atlantik.

 

Permasalahan Pengembangan Kentang Atlantik

Apabila cara budidayanya yang benar, produktifitas kentang di Indonesia bisa mencapai 35 ton per hektar per musim tanam. Ada beberapa kendala yang mengakibatkan tingkat produktifitas kentang kita menurun hanya tinggal 20 ton bahkan kurang dari itu. Pertama faktor lahan. Areal yang bisa ditanami kentang, di Indonesia sangat terbatas. Lahan itu harus berketinggian di atas 1.000 m. dpl. Tekstur tanahnya gembur. Akan lebih baik kalau tanah di lahan tersebut merupakan tanah vulkanis. Namun tidak semua lahan dengan karakteristik seperti itu bisa ditanami kentang. Masih ada faktor kelembaban tanah dan juga udara, intensitas sinar matahari, angin dan yang terakhir ada atau tidaknya gangguan frost yang di Jawa Tengah disebut sebagai embun upas (embun beracun). Sama-sama berketinggian 1.000 m. dpl, kawasan Puncak di Jawa Barat tidak cocok untuk ditanami kentang. beberapa kali pernah ada investor yang mencobanya namun selalu gagal. Saingan dari komoditas lain juga ikut pula berpengaruh. Misalnya di kawasan Temanggung dan Kopeng (Jateng). Meskipun beberapa kali diintruduksi kentang, namun masyarakat cenderung lebih suka menanam tembakau. Pertama karena modalnya lebih rendah, sementara hasilnya justru bisa lebih tinggi dari kentang.

Berikutnya soal benih. Sekarang benih-benih kentang F0 dan F1 sudah banyak diperdagangkan. Benih-benih kentang unggul ini, berkecenderungan akan terus menurun tingkat produktifitasnya, apabila hasil produksinya dijadikan benih lagi. Penurunan produktifitas antara F1 dan F2 memang tidak akan terlalu tinggi.  Tetapi di atas F5, akan sama atau malahan justru lebih rendah dibanding kentang-kentang lokal. Kebiasaan petani kita selama ini adalah, selalu menggunakan  kentang-kentang hasil panen mereka sendiri untuk keperluan benih. Setelah lewat F5 pun, mereka tetap akan menggunakannya untuk benih. Akibatnya tingkat produktifitas akan terus menurun. Ditambah lagi dengan makin kurusnya lahan akibat dieksploitir secara terus-menerus untuk budidaya kentang. Idealnya, semua komoditas pertanian, termasuk kentang, tidak boleh dibudidayakan secara terus-menerus di lahan yang sama. Karenanya, lahan harus dirotasi atau dibiarkan “bero” (menganggur) minimal selama satu musim tanam (3 bulan). Pola yang paling ideal adalah: kentang – kacang-kacangan – sayuran – jagung, baru kemudian kentang lagi. Jadi dalam setahun, idealnya satu petak lahan hanya ditanami kentang satu kali. Bahkan akan lebih ideal lagi kalau tahun ini diberi kentang (1 musim tanam), tahun berikutnya jangan ditanami kentang. Baru tahun berikutnya lagi diberi kentang. Jadi ada selisih satu tahun.

Selain dieksploitasi hingga makin kurus, bahan organik yang diberikan ke lahan pun sangat sedikit. Apabila kita menginginkan hasil 30 ton kentang per hektar, maka idealnya ke dalam 1 hektar lahan tersebut kita berikan aplikasi 15 ton pupuk organik (kandang, kompos, guano). Tetapi yang terjadi di kalangan petani, maksimal pupuk yang mereka berikan hanyalah 5 ton (1 truk besar) per hektar lahan. Akibatnya pengurusan lahan akan makin berlanjut dan semakin parah kondisinya. Kondisi ini masih ditambah dengan adanya bahaya erosi yang akan terus mengikis top soil (lapisan tanah yang subur). Kebiasaan petani kita selama ini adalah, membudidayakan kentang di lereng-lereng curam, tanpa membuat terassering. Alasan mereka adalah, terassering akan mengakibatkan frost terhenti pada petak-petak yang datar itu lalu menghancurkan kentang mereka. Dengan tanpa terassering, udara dingin dengan kabut es itu akan terus meluncur turun ke kawasan yang lebih hangat tanpa mengganggu kentang mereka.

Itulah beberapa kendala budidaya kentang di negeri ini. Kentang sayur kita pun masih banyak mengalami hambatan teknis. Lebih-lebih kentang french fries yang bagi sebagian besar petani kentang kita masih merupakan hal yang baru. (***)   

 

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s